Kamis, 26 Januari 2012

Memupuk Kepercayaan Islam Sebagai Yang Paling Benar


Krisis kepercayaan terhadap kebenaran Islam sebagai agama universal dan
paripurna tidak bisa dipungkiri telah melanda banyak orang yang mengaku
beragama Islam. Ini terbukti dari gaya hidup mereka yang dilihat secara lahiriyah
masih saja ada kesamaannya dengan orang-orang non- Muslim.
Misalnya dalam penampilan; di samping tidak berjanggut bagi laki laki, juga
pakaiannya isbal (menutupi mata kaki). Sarung pun menjadi sesuatu yang asing,
terutama dalam acara-acara resmi. Meskipun sarung bukan pakaian wajib dalam
Islam, tetapi mestinya pandangan kaum Muslimin tidak sinis terhadap sarung
sebagai pakaian kantor.
Sementara kalau melihat kaum wanita di jalan-jalan, sulit dibedakan antara
seorang Muslimah dan non Muslimah, sebab rambut sama-sama terlihat, betis
sama-sama terbuka, sama-sama "menor" dalam bersolek bahkan sama-sama
berpakaian ketat. Sanggulnya juga tanpa "sungkan-sungkan" dibesarkan dengan
sambungan rambut cemara yang dilaknat dalam Islam.
Memang sangat mungkin semua itu akibat ketidaktahuan atau ketidak
pahaman. Namun ketidaktahuan itu adalah akibat bahwa kebanyakan
*Disalin dari majalah As-Sunnah 12/III/1420H hal. 21 - 27.


kaum Muslimin telah kehilangan kepercayan terhadap Islam, sehingga mereka
cenderung mengabaikan ajaran-ajarannya.
Mempela jari ilmu-ilmu Islam dianggap sebagai ketinggalan jaman. Banyak
orang Islam, bahkan kalangan akademik yang bila mempela jari ilmu-ilmu Islam
tanpa dicampur dengan teori-teori ilmu Barat, beranggapan bahwa hal itu
suatu kemunduran. Tidak sesuai dengan perkembangan jaman dan seterusnya.
Bukankah itu krisis kepercayaan terhadap Islam?
Umumnya seseorang diketahui Muslim, baru ketika dia melaksanakan shalat
atau ketika dia jak berbicara. Hanya dalam beberapa kalangan atau kawasan saja
terdapat suatu kelompok sosial yang secara lahiriyah tampak sebagai Muslim,
sebab mereka yang laki-laki berjanggut dan yang wanita berjilbab, misalnya.
Tentu ini merupakan suatu tantangan.

Tiada Yang Baik Dan Benar Selain Islam

Orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, pasti mengimani dan meyakini
bahwa hanya Islam sa jalah agama yang terbaik dan benar, sebagai pedoman
beribadah dan pedoman hidup di dunia. Sebab ia meyakini bahwa segala yang
dikatakan Allah dan Rasul-Nya pasti benar dan baik. Allah ber_rman:
Sesungguhnya agama (yang ada) di sisi Allah adalah Islam. (Ali
Imran: 19)
Berkaitan dengan ayat ini, Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan bahwa
Ayat tersebut merupakan berita dari Allah bahwa tidak ada agama
siapapun yang diterima di sisi-Nya, kecuali Islam.
Sedangkan Islam ialah ittiba' (mengikuti) a jaran Rasul-rasul Allah
yang diutus untuk tiap-tiap masa, sampai akhirnya. ditutup dengan
(rasul terakhir-pen) Muhammad. Sehingga semua jalan menuju Allah
list tertutup kecuali melalui jalan Muhammad.
Karenanya, siapa yang menghadap Allah (setelah diutusnya Nabi
Muhammad) dengan menggunakan agama yang tidak berdasarkan
syari'at beliau, maka tidak akan diterima. Seperti halnya Firman
Allah pada ayat yang lain.

Siapa yang mencari (menempuh) selain agama Islam, maka
sekali-kali tidak akan diterima agama itu darinya. (Ali
Imran: 85)
Demikian pula pada ayat di atas (Ali Imran: 19) Allah juga
memberitakan tentang pembatasan agama yang diterima di sisi-Nya,
hanyalah Islam. 1
Dengan kata lain, bahwa selain Islam adalah agama yang batil. Tidak akan
membawa kebaikan dunia dan tidak pula akhirat. Sebab agama selain Islam,
tidak diakui dan tidak dibenarkan oleh Allah sebagai pedoman, baik dalam hal
ibadah maupun mu'amalah-mu'amalah duniawi.
Bukankah hanya Allah sendiri yang Maha Mengetahui dengan cara apa
dan pedoman bagaimana, manusia akan mendapatkan maslahat hidupnya?
Bukankah Dzat yang Maha Pencipta, yang lebih mengetahui tentang apa-apa
yang diciptakan-Nya?
Dua ayat di atas menunjukkan ini semua. Dan kenyataan ini masih ditunjang
dengan bukti-bukti lain, yang paling utama di antaranya adalah _rman Allah
Hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu. Dan telah aku
sempurnakan nikmat-Ku untukmu, dan Aku telah ridha Islam
sebagai agamamu. (al-Maidah: 3)
Dalam kaitannya dengan ayat ini, Syeik Ali Hasan Ali Abdul Hamid al-Atsari 2
mengatakan bahwa ayat yang mulia ini membuktikan betapa syari'at Islam telah
sempurna dan betapa syari'at itu telah cukup untuk memenuhi segala kebutuhan
makhluk (jin dan manusia-pen) yang tugas utamanya adalah seperti _rman Allah
:
Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka
beribadah kepada-Ku. (Adz-Dzariyat: 56)
Artinya kebenaran Islam adalah kebenaran paripurna, kebenaran menyeluruh
dan kebenaran yang betul-betul merupakan nikmat Allah yang amat luar biasa.
=====================================================================
1 Lihat Tafsir Ibnul Katsir I / Ali Imran: 19.
2 Seorang tokoh ulama dari Yordania dalam kitabnya Ilmu Ushul al-Bida' terbitan Dar
ar-Rayah - Riyadh, cet: I 14134 H/1922 M hal. 170.


Betapa tidak, sebab apapun kebutuhan manusia dalam rangka pengabdian dan
peribadatannya kepada Penciptanya sudah tertuang dan tercukupi dalam Islam.
Sesungguhnya manusia tidak membutuhkan lagi petunjuk-petunjuk lain,
kecuali Islam. Itulah mengapa Syeikh Ali Hasan Abdul Hamid melanjutkan
keterangannya tentang surat Al-Maidah: 3 dengan menukil perkataan Ibnu Katsir
ha_dzullah, dalam tafsirnya sebagai berikut:
(Ayat) ini merupakan nikmat Allah terbesar bagi ummat ini. Karena
Allah telah menyempurnakan agama mereka (dienul Islam -pen)
sehingga mereka tidak lagi membutuhkan agama lain, kecuali Islam.
Tidak lagi membutuhkan Nabi lain, kecuali Nabi Muhammmad.
Itulah sebabnya, Allah menjadikan Muhammad sebagai penutup para
nabi. Allah mengutus beliau menjadi Rasul kepada manusia dan jin.
Karenanya, tidak ada suatupun yang halal kecuali yang dihalalkan-
nya; tidak ada suatupun yang haram, kecuali yang diharamkannya.
Dan tidak ada satu agamapun (yang benar) kecuali apa yang
disyari'atkannya.
Semua sa ja yang diberitakan oleh Nabi Muhammad, maka berita-
berita itu adalah haq dan benar. Sedikitpun tidak mengandung
kedustaan dan penyimpangan.
Seperti dalam _rman Allah:
Telah sempurna kalimat Rabb-mu; kebenaran dan
keadilannya. (al-An'am: 115)
Artinya, benar dalam segala beritanya dan adil dalam segala perintah
dan larangannya.
Maka, ketika Allah telah menyempurnakan agama Islam sebagai
agama buat mereka (umat Muhammad-pen), berarti telah sempurna
pula nikmat Allah buat mereka. 3
Kesempurnaan Islam adalah kesempurnaan yang meliputi segala aspek, untuk
tujuan kebahagiaan masa depan yang abadi dan tanpa batas. Yaitu kebahagiaan
tidak sa ja di dunia, tetapi bahkan di akhirat.
=====================================================================
3 Lihat Ilmu Ushul al-Bida' hal. 17-18.


Karena itu mengapa orang masih ragu terhadap kebenaran dan kesempurnaan
Islam. Mengapa orang masih mencari alternatif dan solusi-solusi lain? Islam
sudah cukup. Tidak perlu penambahan atau pengurangan untuk melaksanakan
a jaran-a jaran Islam.
Bahkan, menurut penjelasan Syeikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid, bahwa hal
(kesempurnaan Islam) ini telah diakui dan diyakini oleh seluruh pemeluk agama-
agama lain. Walillahi al-hamdu
Hanya sa ja banyak di antara mereka yang mengingkari pengakuan mereka
sendiri, seperti disebutkan oleh Allah (tentang Fir'aun dan kaumnya):
Mereka mengingkari kebenaran ayat-ayat Allah, padahal diri-diri
mereka meyakini (kebenaran)nya, lantaran kedhaliman dan
kecongkaan. (an-Naml: 14) 4
Selanjutnya, dalam mengetengahkan pengakuan orang-prang yahudi akan
keagungan dan kesempurnaan Islam, Syeikh Ali Hasan juga membawakan sebuah
hadits. 5
Dari Thariq bin Syihab, ia mengatakan bahwa orang-orang Yahudi
berkata kepada Umar bin Khatab:
"Kahan membaca sebuah ayat dalam Kitab (al-Qur'an)
kalian. Sungguh apabila ayat itu turun kepada kami bangsa
Yahudi, tentu hari turunnya ayat itu akan kami jadikan
sebagai hari raya."
Umar bertanya: "Ayat yang mana ?" Mereka menjawab:
Hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu dan
telah Aku sempurnakan nikmat-Ku untukmu." (al-
Maidah: 3)
Umar berkata:
"Demi Allah, sesungguhnya aku betul-betul mengetahui
hari apa ayat itu turun kepada Rasullulah dan saat apa
=============================================================
4 Lihat Ilmu Ushul al-Bida' hal. 18.
5 Lihat Ilmu Ushul al-Bida' hal. 18-19.

Tidak ada komentar: