Kamis, 26 Januari 2012

MENJAWAB FITNAH TENTANG BIDADARI DI SURGA


Dalam diskusi di forum ini, kita berkali-kali dihadapkan kepada postingan netters Kristen tentang bidadari di surga, misalnya :Ang Tek Kun : Ahhhh Rev, yang pagan itu ya Islam dong. Mana ada isi surga itu penuh bidadari yang bisa dikawinin manusia, atau juga meniduri 100 perawan dalam semalam???Mr.X : Bisa nggak sih disebut agama kalo tujuan akhirnya: Nge-SEX dengan sekian banyak bidadari seks di Surga??? 6. Mengajaarkan akan adanya suatu Surga Full Sex demi memuaskan birahi para ahli Surga.Referee : hmm.. enak juga ya di sorga islam bisa kuda2an dan kudanya bidadari yang selalu siap berpesta pora.Saya pikir ketiga postingan dari netters Kristen ini, dengan bahasa dan tata-krama yang ‘khas’ sudah cukup mewakili bagaimana pandangan mereka terhadap keterangan adanya bidadari di surga sesuai yang diajarkan oleh Islam.Sumber ajaran Islam, yaitu Al-Qur’an dan hadist banyak memuat penjelasan tentang kondisi di surga terkait dengan keberadaan bidadari ini. 

Beberapa hadist (sekurang-kurangnya melalui terjemahan Bahasa Inggeris atau Indonesia) memberikan gambaran tentang adanya hubungan seksual di surga, disamping adanya penjelasan Rasulullah tentang surga yang ‘tidak pernah terlihat oleh mata dan terpikirkan oleh pikiran’ – karena itu sulit untuk mengasosiasikannya dengan hasrat dan naluri seksual manusia – maka penjelasan hadist terasa terlalu simpang-siur. Untuk itu saya mencoba menjelaskan persoalan ini menitik-beratkan dengan ‘mengutak-utik’ Al-Qur’an.Melalui terjemahan Al-Qur’an berbahasa Indonesia kita menemukan sekurang-kurangnya 8 kelompok ayat yang memuat kata tentang bidadari di surga. Dari 8 kelompok ayat tersebut hanya 3 ayat yang menyebut secara jelas tentang bidadari, yaitu kata ‘huurin ‘iin’ : kadzaalika wazawwajnaahum bihuurin 'iinin[44:54] 

demikianlah. Dan Kami berikan kepada mereka bidadari.muttaki-iina 'alaa sururin mashfuufatin wazawwajnaahum bihuurin 'iinin [52:20] 

mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli.Wahuurun 'iinun, ka-amtsaali allu/lui almaknuuni [56:22] 

Dan ada bidadari-bidadari bermata jeli, [56:23] 

laksana mutiara yang tersimpan baik. kata bidadari melalui kata ganti termuat dalam 5 kelompok ayat Al-Qur’an :1. wa'indahum qaasiraatu alththharfi 'iinun, ka-annahunna baydhun maknuunun [37:48] 

Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita matanya,  [37:49] 

seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan dengan baik.wa’indahum = dan disisi merekaqaasiraatu = tidak liar pandanganatthafri = ujung/mata‘inun = mata2. wa'indahum qaasiraatu alththharfi atraabun [38:52] 

Dan pada sisi mereka (ada bidadari-bidadari) yang tidak liar pandangannya dan sebaya umurnya.wa’indahum = dan disisi merekaqaasiraatu = tidak liar pandanganatthafri = ujung/mataatraabun = sebaya3. fiihinna qaasiraatu alththharfi lam yathmitshunna insun qablahum walaa jaannun, ka-annahunna alyaaquutu waalmarjaanu [55:56] 

Di dalam syurga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni syurga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin. [55:58] 

Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.fiihinna = didalamnya merekaqaasiratu = pendek/menundukkanathafri = ujung/matalam yathmitshunna = tidak/belum menyentuh merekainsun = manusia4. fiihinna khayraatun hisaanun, huurun maqshuuraatun fii alkhiyaami[55:70] 

Di dalam syurga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik. [55:72] 

(Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih, dipingit dalam rumah.fiihinna = didalamnya merekakhayraatun = baik-baikhisaanun = bagus-bagus/cantik-cantikhuurun = yang putih/jelitamaqsuuraatun = tersimpan/terpingitfilkhiyaami = dalam mahligai/rumah5. innaa ansya/naahunna insyaan, faja'alnaahunna abkaaraan, 'uruban atraabaan [56:35] 

Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung [56:36] 

dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan. [56:37] 

penuh cinta lagi sebaya umurnya.inna = sesungguhnya Kamiansya’naahunna = Kami jadikan merekainsyaa’an = dengan kejadianfaja’alnaahunna = maka kami jadikan merekaabkaaran = gadis-gadis perawanDari kelima kelompok ayat tersebut hanya yang nomer 5 yang secara jelas menyebut objek yang dimaksud adalah berjenis kelamin wanita, sedangkan keempat ayat lainnya tidak secara jelas mengindikasikan apakah yang dimaksud adalah wanita atau bukan. Dalam terjemahan bahasa Indonesia kelompok ayat nomer 5 dibuat penjelasan dalam tanda kurung ‘bidadari’. Tafsir Jalalain juga memberikan penjelasan bahwa makhluk yang diciptakan tersebut adalah bidadari sekalipun Al-Qur’an tidak menyebut objeknya, dan kata ‘insyaa’an’ diartikan dengan kata ‘langsung’ yaitu yang diciptakan tanpa melalui proses kelahiran terlebih dahulu, sedangkan Tafsir Al-Mishbah tidak mengartikannya sebagai ‘bidadari’ dan tetap memakai kata ganti ‘mereka’, sedangkan kata ‘insyaa’an’ ditafsirkan dengan kata ‘sempurna’, sehingga bunyinya :”Sesungguhnya Kami menciptakan mereka dengan penciptaan sempurna..”, suatu penafsiran yang belum tentu berarti ‘diciptakan tanpa melalui proses kelahiran’.Selanjutnya Ustadz Quraish Shihab menjelaskan kalimat ‘lagi sebaya umurnya’ dengan menyampaikan hadist diriwayatkan oleh at-Tirmidzi bahwa seorang wanita tua datang kepada Nabi Muhammad SAW memohon dido’akan agar masuk surga. 

Nabi menjawabnya dengan bersabda (dengan tujuan bergurau sambil mengajar) :”Beritahu wanita itu, bahwa dia tidak akan memasukinya dalam keadaan tua. Sesungguhnya Allah berfirman (lalu beliau membacakan ayat-ayat diatas) . Hadist ini diriwayatkan juga oleh al-Baihaqi dan ath-Thabarani, namun oleh Ibnu Hajar dinilai merupakan hadist lemah. Kalau kita merujuk kepada penjelasan ini maka ‘diduga keras’ wanita yang dimaksud QS[56:35-37] adalah manusia biasa yang mendapat anugerah surga dan bukan bidadari seperti yang dimaksud dengan kata ‘huurin ‘iin’ dalam QS[44:54], QS[52:20], QS[56:22].Dalam keempat kelompok ayat yang lain, Al-Qur’an menyampaikan adanya ‘sesuatu’ di surga yang mempunyai ciri-ciri : punya pandangan yang tidak liar, jelita matanya ibarat telur burung unta, berumur sebaya, sopan dan selalu menundukkan pandangan, belum pernah disentuh manusia, seperti permata yakut dan marjan, yang cantik (atau bagus) , putih dan tersimpan dalam mahligai. Kita tentunya boleh saja mengartikan ciri-ciri ini secara fisik dan harfiah dan itu mempunyai ‘peluang besar’ menuju kepada sosok wanita. Namun tidak salah juga kalau beberapa ahli tafsir mengartikan ciri-ciri tersebut secara majaazi, bahwa maksud ‘pandangan tidak liar’ adalah ‘sesuatu’ tersebut punya perhatian hanya terbatas kepada pasangannya, pandangan yang terbuka lebar penuh perhatian, murni, tulus dan setia kepada pasangan, intinya betul-betul merupakan ‘sesuatu’ yang cocok dihati. Keempat kelompok ayat tersebut tidak menjelaskan apa jenis kelamin ‘sesuatu’ itu. 

Dan ternyata ini juga sejalan dengan pengertian kata ‘huurin ‘iin’. Penjelasan ini juga tidak membatasi penafsiran bahwa yang dimaksud adalah ‘sesuatu’ yang diciptakan di surga atau merupakan manusia yang menjadi penghuni surga, baik laki-laki maupun perempuan.Tafsir al-Mishbah menjelaskan bahwa kata ‘hur’ adalah bentuk jamak dari kata ‘hauraa’ yang pertama menunjuk kepada jenis kelamin feminin dan yang kedua jenis maskulin. Ini berarti bahwa kata ‘hur’ adalah kata yang netral kelamin – bisa laki-laki dan bisa perempuan. Kata ‘hur’ sendiri menurut ar-Raghib al-Ashfahaani adalah tampak sedikit keputihan pada mata disela kehitamannya (dalam arti yang putih sangat putih dan yang hitam sangat hitam). Bisa juga ia berarti ‘bulat’, ada juga yang mengartikan ‘sipit’. Sedangkan kata ‘iin’ adalah jamak dari kata ‘aina’ dan ‘ain’ yang berarti’ bermata besar dan indah’. Penjelasan kata ‘huurin ‘iin’ berdasarkan arti katanya ternyata sejalan dengan bunyi ayat lain tentang ‘sesuatu’ yang akan menjadi pasangan manusia yang masuk surga nantinya.Pertanyaan muncul dengan adanya ayat [52:20] ..dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli. Kata ‘dikawinkan’ berasal dari kata ‘zawwajnaahum’ tidak dipahami dalam arti mengawinkan. Ini bukan saja karena di akherat ini tidak ada lagi ‘taklif’ dan kewajiban syariat berupa akad nikah dan lain-lainnya, tetapi juga karena ayat diatas menggunakan idiom ‘bi’ ketika menggunakan kata ‘zawwaja’. Biasanya kata mengawinkan diungkapkan tanpa menyertakan idiom ‘bi’ yakni ‘zawwaja fulanah’ atau dalam konteks ayat ini – jika yang dimaksud dengannya mengawinkan tentu redaksinya ‘zawwajnaahum Huur ‘in’ dan bukan ‘zawwajnaahum bihuurin 'iinin. Kalau begitu maka arti kata ‘zawwajnaahum’ bisa kita artikan lebih luas dan tidak hanya terbatas pada hubungan perkawinan antara laki-laki dan wanita. Kata ini mungkin boleh diartikan dengan ‘dipasangkan’ yang punya arti luas.Sekarang kita coba mencari penjelasan Al-Qur’an tentang adanya hubungan antar penghuni surga, misalnya disampaikan dalam ayat ini :

[2:25] ..Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.Dalam tafsir Jalalain, Imam Jalaluddin al-Mahalli secara jelas mengartikan ‘azwaajun muthahharatun’ sebagai isteri-isteri yang disucikan, sedangkan dalam Tafsir Al-Mishbah, Ustadz Quarish Shihab mengartikannya dengan ‘pasangan-pasangan yang disucikan’, sekalipun dalam beberapa penjelasannya beliau menyinggung bahwa yang dimaksud pasangan itu adalah suami atau isteri. Kalimat ‘azwaajun muthahharatun’ terkait dengan surga ini juga diungkapkan dalam QS[3:15], QS[4:57]. Kata ’azwaajun’ juga dipakai dalam beberapa ayat Al-Qur’an yang merujuk kepada ‘istri’ antara lain pada ayat QS[2:232], QS[9:24], QS[24:6]. QS[64:14], QS[66:5], dst. Sedangkan kata yang sama dan diartikan ‘pasangan’ dipakai pada ayat : QS[78:8], QS[6:143], QS[35:11], QS[36:36], QS[38:58], kata 'pasangan' pada ayat terakhir tidak selalu diartikan sebagai suami atau istri, misalnya QS [6:143] ..(yaitu) delapan binatang yang berpasangan (tsamaaniyata azwaajin).Berdasarkan beberapa penjelasan ayat Al-Qur’an diatas, marilah kita mencoba untuk ‘sedikit berkhayal’ tentang surga. Ternyata Al-Qur’an mengisyaratkan bahwa di surga, manusia yang jadi penghuninya mempunyai pasangan dan hal tersebut tidak selalu diartikan sebagai pasangan suami istri, dan yang dikatakan sebagai ‘bidadari’ itu ternyata tidak hanya terbatas pada pengertian pasangan wanita saja. Persoalan ini tidaklah aneh dalam sejarah penafsiran Al-Qur’an, karena sebagai firman Allah, kemampuan kita untuk menafsirkannya sangat terbatas. Ketika Allah menyampaikan hanya satu kata firman-Nya, kelihatan tidak cukup jutaan buku yang dibuat manusia untuk menjelaskan maknanya, Allah menyatakan :

[18:109] Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)".[31:27] Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.Maka ketika manusia berusaha menjelaskan kalimat-kalimat Allah, apalagi yang terkait dengan sesuatu yang masih ghaib, tidak akan habis-habisnya manusia memberikan penafsirannya, hebatnya seluruh penafsiran tersebut seolah-olah ‘tenggelam’ dalam kalimat-kalimat Allah tersebut.Disisi lain, Al-Qur’an juga bisa berfungsi sebagai cermin bagi manusia, memantulkan apa yang ada dalam diri kita ketika berhadapan dengannya. Pada mulanya Al-Qur'an diturunkan pada bangsa Arab dan para penafsir awal adalah kaum laki-laki dari bangsa tersebut, maka mereka yang memang terkenal punya karakter ‘manusia gurun yang perkasa’ terutama terkait dengan wanita, ayat tersebut ‘memantulkan' karakter tersebut sehingga muncul penafsiran yang 'berpihak' kepada kaum lelaki yang menggambarkan wanita cantik, putih bersih, setia, tunduk, dan inilah penafsiran yang muncul bertahun-tahun sehingga membentuk ‘stereotip’ tentang surga yang dipenuhi bidadari. 

Tentu saja ini tidaklah salah karena seperti yang saya katakan sebelumnya, penafsiran ini seolah-olah ‘tenggelam’ didalamnya dan artinya tetap bisa diterima . Namun bagaimana kalau yang berhadapan dengan ayat tersebut adalah seorang wanita..?? kita juga ‘mempersilahkan’ wanita tersebut ‘berkhayal’ bahwa di surga nanti dia akan menemui pasangan, bisa seorang suami, bisa juga suaminya yang di dunia, bisa juga wanita lain sebagai sahabat ‘sejiwa’, pasangan yang tidak akan mengkhianati dan yang selalu mendampingi, tidak seperti pasangannya di dunia, bisa pacar, suami, sahabat yang dipastikan pernah berkhianat.Di kantor saya mempunya rekan seorang yang terobsesi untuk menjadi vokalis group heavy metal, namun sayang cita-citanya kandas karena umurnya sudah menjelang ’50-an dan group musik yang dibentuknya ketika remaja hancur berantakan akibat ketidak-kompakan. Apakah yang akan dia khayalkan kalau nantinya dia bisa masuk surga..?? tentu saja di surga nanti dia ingin menjadi vokalis dan rocker terkenal, seperti Ian Gillan ataupun Ronny james Dio. Tahukan anda siapa yang akan menjadi ‘bidadari’nya..?? maka yang akan menjadi ‘huurin ‘iin’ adalah teman se group, bisa gitaris model Ritchie Blackmore atau Steve Morse atau drummer jagoan seperti Ian paice, dll. Temannya tersebut akan menjadi pasangan yang setia, group musiknya tidak bakalan bubar, anggota yang lain hanya punya perhatian dan pandangan terfokus padanya, itulah yang menjadi ‘bidadari’ miliknya di surga nanti.Atau katakanlah anda terobsesi menjadi pemain bola seperti David Beckham, maka yang menjadi ‘huurin ‘iin’ anda adalah pemain lain seperti Garry Neville atau Wayne Rooney serta punya ‘huurin ‘iin’ pelatih sehebat Sir Alex Ferguson. 

 ‘Huurin ‘iin’ anda tersebut merupakan anggota se team anda yang selalu tahu dan mengerti apa maunya anda, mampu memberikan ‘umpan-umpan matang’ agar anda bisa beraksi. Namun boleh-boleh saja kalau anda adalah seorang yang punya naluri model Kaisar Caligula, kaisar Romawi yang ‘gadang salero’, yang gemar mengoleksi perempuan sehingga singgasananya selalu dikelilingi puluhan wanita cantik dan seksi, maka ‘huurin ‘iin’ anda di surga ‘tidak akan jauh-jauh’ dari hal tersebut.Kalaupun kita bertanya :”Lalu apa maksudnya Allah sengaja menyampaikan ‘sesuatu’ di surga yang akan menjadi pasangan manusia penghuninya..??, apa pentingnya hal tersebut..??”. Kita mengetahui bahwa manusia adalah makhluk sosial karena tidak bakalan bisa hidup sendiri. Kelihatannya di surga nanti nalurinya sebagai makhluk sosial tidak akan berubah. Maka ketika manusia bersosialisasi di surga nanti dia akan berhadapan dan berinteraksi dengan makhluk-makhluk lain. Dengan menyampaikan adanya ‘huurin ‘iin’ ini, maka Allah – yang sangat mengerti tentang manusia – tidak hanya menyiapkan, makanan dan minuman dan tempat tinggal yang indah, tapi juga menyiapkan ‘masyarakat’ tempat para penghuninya bersosialisasi dan berinteraksi.Ternyata ‘bidadari’ di surga tidak harus perempuan, dan hubungan kita dengannya tidak harus berupa hubungan seksual. Apa yang kita tafsirkan dari penjelasan Al-Qur'an tentang itu merupakan ‘pantulan’ dari obsesi kita sendiri, Allah menyampaikan :

[43:71] Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas, dan piala-piala dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya".

5 komentar:

Anonim mengatakan...

mau nanya. waktu Yesus naik kesurga, ( maaf ) alat kelaminnya ditinggal di bumi ataukah dibawa ke surga???? Kalau dibawa kesurga, kira-kira buat apa???

ASRIE mengatakan...

Ini ayat2 yg jelas menunjukkan adanya perkawinan dgn bidadari2 di surga :
Izin meniduri hamba/ budak (dianggap halal/tidak berdosa)
QS 4: 3 & 24 ; QS 33:52 ; QS 23 : 5-6 ; QS 70 : 29-30
Oleh sebab itu, TKW2 yang di PERKOSA majikannya di Arab tidak bisa mengadu (sia2) kepada polisi & berharap dibela disana, sebab hal tsb sudah dihalalkan, bukan suatu kesalahan.
Memang pada zaman sebelum Yesus turun ke dunia, Allah membiarkan pria beristri lebih dari satu,
( karena jumlah manusia masih sedikit ) tapi setelah zaman Yesus, tidak diperbolehkan lagi.
Stop poligami. Tapi sang nabi tidak tahu, atau pura2 tidak tahu, sebab ia doyan kawin/ cabul.
QS 33:37 "Zaid disuruh menceraikan istrinya dan semua orang mukmin dibolehkan mengawini istri2 anak2 angkat mereka." ( Ayat ini turun karena sang nabi naksir istri anak angkatnya, Zaid, sehingga "allahnya mendukung" niat cabul nabi dengan menurunkan ayat ini. Juga lihat ayat yang serupa dibawah ini. )
QS 66 : 5 "Bila nabi menceraikan istrinya, mungkin Allah akan memberi ganti dengan istri2 lain"
QS 4: 3 …". Kawinilah wanita2 (lain) yang kamu senangi: 2 ,3 atau 4. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil maka kawinilah seorang saja….atau budak2 yang kamu miliki.
Tapi dalam QS 4: 129 "Dan kamu se kali2 tidak akan dapat berlaku adil diantara istri2mu, walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian…..
Renungkanlah pertentangan antara ayat QS 4:3 dan 4:129 diatas, ( semula meragukan kesanggupan umat berlaku adil, tapi kemudian dia merasa yakin umat tidak akan sanggup berlaku adil. Koq allah ragu2 seperti itu, tidak Maha Tahu ?)

QS 52 : 20 " di Surga, Kami akan kawinkan mereka dengan bidadari2 yang cantik bermata jeli"
(berarti hanya untuk KAUM PRIA YANG CABUL; untuk wanitanya tidak disediakan tempat.
Inilah ayat DUSTA, supaya orang2 BODOH saat itu bersedia mati mengorbankan diri dalam peperangan/ perampokan, yang dipimpin sang nabi.
Tapi anehnya setelah 14 abad masih saja ada orang2 BODOH. Mana mungkin disurga ada pelacuran/ tempat maksiat seperti itu? Didunia saja digrebek oleh FPI )

Itulah ayat2 yg mendorong percabulan

Ayat dimana awloh mendukung nafsu bejad sang nabi
Q33.50 : “ Hai Nabi ! Sebagai tambahan isteri-isterimu, gadis-gadis budak dan wanita wanita yang tertangkap, Kami jadikan sah bagimu dan bagi semua saudaramu dan juga setiap wanita yang mukmin jika ia menyerahkan diri padamu dan jika kau memang menginginkannya.

. Sahih Bukhari 62 : 15
Dikisahkan Aisha; Rasulullah berkata padaku, “Sebelum aku menikahimu, dirimu dua kali hadir dalam mimpiku. Aku melihat malaikat membawamu, kau memakai gaun sutra, dan ia berkata inilah istrimu. Aku membuka gaun itu, dan ternyata itu adalah engkau. Lalu aku berkata pada diriku, “Jika mimpi ini dari Allah, biarlah mimpi ini menjadi kenyataan”.

ASRIE mengatakan...

Di surga yang asli, tidak ada percabulan, sehingga saya yakin , tidak diperlukan alat kelamin disana
Malaikatpun tidak berkelamin, sehingga tidak mungkin ada percabulan disurga

ASRIE mengatakan...

Jadi , yang banyak percabula, mirip ditempat pelacuran itu, pastilah surga yang PALSU

Anonim mengatakan...

saya mau post, semoga ada yang baca. memang tidak pas tempatnya, tapi apalah artinya karena isinya kan debat kristen islam.
jadi bgeni, dulu abram punya istri namanya sarah. karena mandul maka dia ijinkan abram punya anak dari hajar yang namanya ismael. dari sini sudah terjadi perbedaan. anak ishkak menurunkan agama kristen dan ismail menurunkan agama islam. sampai2 cerita tentang siapa yang dikorbanan menjadi rebutan. pihak kristen mengataan anak korban adalah iskak dan sebaliknya adalah ismael. tentu, salah satu dari mereka ada yang salah, atau sengaja berbuat salah. dan agama seperti itu rawan untuk di ikuti.
dalam islam saya ndak tahu apa itu hadis apa itu firman tertulis audubilah minas saitun irohim dst dst. sampai isdinah sirottol mustakim dst dst. yang kalau di terjemahkan ke bhs yng kita pahami tunjukkan kami jalan yang lurus. artinya ini agama yang belum tahu kemana arrah mereka selama ini. agama penasaran?
sedangkan Yesus yang adalah Rohhulloh atau Roh Alloh itu mengatakan bahwa ada jalan yang disangka lurus namun ujungnya adalah maut.
kalau kita bertanya kepada orang islam, bagaimana ahkir hdipmu, denan jelas mereka akan jujur tidak tahu nasibnya. Yesus bersabda bahwa Akulah jalan kebenaran dan hidup, tidak ada seorangpun dapat datang kepada Bapa selain melalui Yesus.
kalau memang islam menganggap dirinya adalah agama yang sempurna, atau berbangga menyembpurnakan agama sebelumnya. padahal sebelumnya sudah ada jawaban jalan keluar, kenapa lagi berbalik arah menjadi agama yang bertanya???
lalu Yesus mengataan bahwa kuduskanlah tempat tidurmu, eh malah di agama yang mengaku sempurna, tempat tidur di jadikan tidak kudus, dengan berganti ganti pasangan, boleh lebih dari satu.
sempitlah jalanke surga dan lebarlah jalan ke neraka. bukan berarti yang mayoritas itu benar. bukan berarti yang minoritas itu salah. pakai hati nurani untuk mencari Tuhan..